Lorem Ipsum

Lorem ipsum dolor sit amet, no nec enim veritus, magna appareat similique ne est, et ius congue quando soluta. Evertitur accommodare te ius, ut usu soleat mediocrem, cu wisi quando graece mei. No vitae habemus expetenda pro. Has dolor dolore an, cum unum summo principes at. Iudico essent legimus pro ea, mei quaeque perfecto te, erat vitae vivendum te usu. Vis at laudem eligendi voluptaria, et eros lobortis disputationi vix, euismod expetendis consectetuer eum id. Timeam accumsan vix te, vis adhuc paulo cu.

Hinc unum reprimique vel id, vim at erat nemore, malis alienum denique ad has. Pro an altera veritus principes. Ea vix ornatus tacimates, ut malis splendide dissentias vis, nec delicata laboramus ne. Ad imperdiet disputando suscipiantur qui, pro ne denique minimum indoctum. Omnesque indoctum qui ea.

Equidem assentior cum ut. Ea persius fabulas scripserit vel, ex libris accusamus mea. Mei ut unum quas dicat, eam altera incorrupte theophrastus in. Quot quas laoreet est ad, ei ius atqui sensibus. Duo tempor percipitur ut, eum ex illud inani numquam, ei persius mandamus vel. Qui verterem evertitur te, eos facer fabellas dissentiunt ea.

Populo vituperatoribus te sea. Cu explicari efficiendi omittantur pri. Ut vix solum utamur. Id possim vidisse persius qui, ridens probatus cu sed.

Augue aperiam ut pri, ne congue aperiri mea, cum fierent sadipscing delicatissimi ea. Labore appareat dissentiunt mei cu. Quo cu sonet dicant hendrerit, qui ad nonumy aliquid. Meliore perpetua liberavisse duo in, utinam ceteros nusquam sit in.

Lorem Ipsum

Building Creativity

Naah baru saja saya ditampar oleh Pak Subiakto, salah seorang pakar branding dari Indonesia. Pak Bi, panggilan Pak Subiakto, menampar saya dengan serial kultwitnya tentang kreativitas.

Tamparan paling telak adalah tentang melakukan hal yang sama setiap hari. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Hihihihi iya memang sih apa yang saya lakukan setiap hari tak jauh berbeda dari hari-hari yang lain.

Setelah baca serial twit Pak Bi kemudian saya jadi menimbang lagi makna hidup saya selama ini. Tentang apa yang telah saya lakukan.

Memang sekilas saya merasakan ada pertentangan antara fokus dan melakukan hal yang berbeda setiap hari. Lantas harus memilih yang mana nih fokus sampai ahli atau melakukan hal yang berbeda.

Hmmm nampaknya ada salah tangkap maksud dari saya terhadap pertentangan di atas. Melakukan sesuatu yang bebeda tak berarti melepaskan fokus terhadap bidang yang ingin dipelajari.

Begitu. Simplenya lakukan hal yang bebeda dalam kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur sampai akan tidur lagi.

Building Creativity

Waiting

Menanti hadirnya kantuk.
Dia sedang mengintip di sudut lengahku.
Terlalu padat dengan gelombang beta dalam tempurung kepala.
Satu jam lagi berganti hari.
Akankah tertidur esok hari.

Tidur menyambut mimpi.
Menanti sadar di dalam mimpi.
Menjelajah mimpi terbebas dari ilusi.
Ilusi ruang yang terikat waktu.
Akankah aku tersadar.

Catat mimpimu agar membantu.
Sekarang aku mulai mengantuk.
Tapi selalu kantuk ini menguap.
Banyak pikiran katamu?
Aah kau hanya terpura-pura sibuk.

Nah banyak mau tapi tak ada waktu.
Banyak mau tapi tak punya kemauan.
Banyak mau bikin tak fokus.
Banyak mau menyalahi hidup minimalist.

Sekian.

Waiting

Math Logic for Religion

Apa yang dibaca saat bangun pagi hari ini adalah pernyataan menang dari salah satu pihak. Menang dari twitwar yang dilancarkan semalam. Kemudian saya jadi penasaran apaan sih isi twitwarnya hmm hmmm… Pernyataan itu terulis di fans page akun orang yang terlibat twitwar.

Setelah baca isi twitwarnya ternyata masalah klasik. Per-Jidalan antara teman IM dengan teman JIL. Perjidalan yang sebenarnya sudah usang namun diangkat kembali. Teman IM mencoba meruntuhkan logika berpikir teman JIL. Saling melontarkan pertanyaan terjadi. Saling meminta jawaban terjadi. Pattern saling tanya ini selalu terjadi di setiap perjidalan seperti ini. Pertanyaan untuk meruntuhkan logika.

Setelah membaca artikel di fans page tersebut ada hal yang mengugah pemikiran kritis saya. Yaitu perkara Pak Quraish Shihab (QS). Bahkan sampai sekarang masih santer dihembuskan Pak QS orang berpaham Syi’ah. Padahal di beberapa media lain sudah beliau lakukan klarifikasi.

Pernah juga debat masalah ini dengan teman di suatu grup whatsapp. Malah merembet tanya-tanya pemahaman saya soal tawasul dll. Hmmm lebih baik ngeles ajah karena saya sudah paham mau dibawa ke mana arah debat kalau saya jawab menggunakan jawaban teman-teman dari NU mengenai perkara tawasul, tabarruk, istighosah, muludan.

Oke lanjut ke perkara Pak QS. Pak QS sampai sekarang masih ada yang menuduh beliau Syi’ah. Benarkah? Wallohu‘alam. Ada lagi satu isu sektarian yang mengobarkan semangat Syiah bukan Islam. Bukan Islam berarti kafir dong ya?

Mari kita ingat-ingat sebentar pelajaran matematika SD. Jika A = B dan B = C, maka A = C. Sepakat yaa dengan logika matematika ini. Kalo ga sepakat ya stop sampai sini deh heu heu heu.

Oke dengan menggunakan logika matematika di atas mari kita tarik kepada isu Pak QS. Pak QS dianggap Syiah. Syiah bukan Islam. Jadi Pak QS bukan Islam. Dalam terminologi orang di luar Islam menurut orang Islam ya kafir. Jadi berdasarkan logika matematika ABC tadi Pak QS secara tidak langsung dituduh kafir oleh orang-orang yang menstempel beliau orang syiah.

Padahal nih yaa ga segampang itu melabelkan kafir kepada seseorang. Bahkan selevel Imam Ghazali saja sangat berhati-hati dalam hal ini. Nah ini baru mengerti Islam ga sampe mendalam, ga pernah bikin tafsir Al-Qur’an, ilmu masih cetek udah nuding-nuding orang lain ga bener. Hmmm banyak-banyak ngaca jiwa deh. Islam itu mengjawantah dalam laku lampah sehari-hari.

Salam…

Math Logic for Religion

Posting Consistency

Terakhir ngisi blog hari Jum’at kemarin. Tak terasa yaa dari hari Sabtu, Ahad, Senin, Selasa tidak ada postingan di blog ini. Ternyata tidak mudah ya konsisten menulis setiap hari. Tentunya di 4 hari absen menulis kemarin ada hal-hal yang menghalangi.

Tapi, gara-gara absen menulis selama 4 hari maka saya punya utang postingan di blog ini sebanyak 4 artikel. Teringat akan kejadian 4 hari yang lalu saat anak sakit. Tangan jadi tidak leluasa menyentuh gadget untuk memposting. Tiap saat harus memperhatikan kondisi anak yang lagi demam.

Terimakasih yaa Tuhan anak saya sudah mereda demamnya di hari Senin lalu. Terimakasih banyak atas perlindunganMu di hari Selasa saat memperjalankanku dari Malang ke Jakarta.

Tolonglah Tuhan, saya sudah kehabisan kata-kata berawalan huruf T untuk memulai tiap kalimat dalam posting kali ini. Tertatih-tatih tentunya dalam mengisi utang posting 4 hari yang lalu. Turunkanlah inspirasi kepada hambaMu yang hina ini.

Terimakasih 🙂

Posting Consistency